SURABAYA – Sebagai bentuk komitmen dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan pada mahasiswa, Ubaya InnovAction Hub (UIH) menggelar acara perdana Ubaya Startup Community yaitu Program Let’s Talk About Startup bertajuk “How to Start a Startup”. Program Let’s Talk About Startup mengusung konsep sharing session bersama alumni Universitas Surabaya (UBAYA) yang berprofesi sebagai entrepreneur dan berhasil membangun startup milik mereka sendiri. Acara diselenggarakan secara daring, Sabtu (9/4/2022).

Saat ini startup menjadi pembahasan menarik di kalangan kaum muda terutama bagi mereka yang memiliki jiwa entrepreneurship. Namun ternyata, masih banyak mahasiswa yang belum paham bagaimana cara memulai membangun startup. Oleh karena itu, program Let’s Talk About Startup hadir untuk memberikan wawasan sekaligus keterampilan praktik agar mereka mengetahui apa saja yang diperlukan dalam memulai hingga mengembangkan startup atau bisnisnya.   

Pada kesempatan ini, dua alumni UBAYA telah hadir sebagai narasumber yaitu Rico Tedyono selaku Co-Founder dan COO PT Komunal Finansial Indonesia serta Ferdinandus Yohanes Nugraha Sutrisno selaku Founder dan Owner Blessing Gold. Tidak hanya berbagi pengalaman dalam membangun bisnis, mereka juga memberikan materi berkaitan dengan startup.

Pemaparan sesi pertama dengan topik “Startup Ideas for 2022” dibawakan oleh Rico Tedyono. Alumni Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UBAYA tersebut mengatakan jika pada tahun 2022 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mulai menentukan atau melakukan pivot jenis startup. Rico Tedyono menyampaikan bahwa saat ini masyarakat perlu mengetahui adanya tren consumer behavior serta topik mengenai rebound and rebalance di tahun 2022.   

“Semua hal yang berkaitan dengan startup di tahun 2022 harus memperhatikan insight communities. Komunitas-komunitas yang sudah ada dan terbentuk bisa menjadi salah satu referensi yang signifikan untuk para startup founder melakukan inovasi. Dalam proses itu, tetap perlu adanya testing dan validation serta pembuatan MVP yaitu Minimum Viable Product,” terangnya.   

Pria yang aktif dalam organisasi JCI East Java ini menjelaskan tentang 10 Consumer Trends 2022 yang bisa diterapkan oleh mahasiswa untuk mulai membuat startup. Menurutnya, hal terpenting dalam memulai startup adalah mampu mengenali karakter atau kepribadian individu karena semua orang tidak harus menjadi founder startup. Rico juga memberi tahu link website The Big Five Personality Traits yang bisa membantu mahasiswa untuk mengenal kepribadiannya sendiri.

Setelah mengetahui kepribadian yang dimiliki diharapkan mahasiswa lebih mudah menentukan peran apa yang cocok dalam startup. Ada tiga jenis orang yang dibutuhkan dalam startup yaitu hipster, hustler, dan hacker. “Kenali diri sendiri, cari partner untuk membangun bisnis atau tukar ide, dan tumbuh bersama komunitas,” pesan Rico.

Selanjutnya, sesi kedua dengan topik “Startup Roles and Responsibilities” disampaikan oleh Ferdinandus Yohanes Nugraha Sutrisno. Pria yang akrab disapa Ferdinandus ini memutuskan untuk membangun bisnis investasi jual beli emas sejak 2019. Ferdinandus mengungkapkan bahwa bisnis yang dijalankan tidak langsung berjalan baik. Namun, dirinya berusaha menghadapi tantangan tersebut dengan membuat strategi bisnis baru agar usahanya tetap bertahan dan berkembang lebih baik.  

“Salah satu strategi dalam mengembangkan bisnis adalah membentuk tim reseller atau mitra. Saat ini jumlah reseller aktif terdiri dari 60 orang yang tersebar di beberapa kota. Startup atau bisnis apapun sebaiknya memiliki tim, sehingga kita bisa bekerja lebih baik,” ungkap Ferdinandus.

Alumni Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UBAYA ini mengaku bahwa tidak hanya strategi bisnis yang harus dipikirkan, tetapi perlu membentuk sebuah tim. Selain tim reseller, Blessing Gold memiliki timlain yaitu tim hunter, tim keuangan, tim IT dan tim desain produk pembuat souvenir atau hampers. Dirinya juga menceritakan bagaimana menemukan tim dalam membangun startup bisnis. Misalnya, tim startup berbeda dengan tim perusahaan konvensional, tim startup terdiri dari individu yang bisa bekerja secara fleksibel tanpa prosedur yang kaku, tim kecil namun efisien, memiliki komitmen, integritas, dan bisa dipercaya, serta anggota tim bisa dimulai dari orang-orang terdekat seperti keluarga.

Ferdinandus berharap mahasiswa bisa cerdas melihat peluang dari permasalahan yang ada di masyarakat untuk dijadikan bisnis. Disamping itu, mahasiswa harus mampu mencintai bisnis yang sedang dibangun karena akan banyak terjadi permasalahan dari internal maupun eksternal dalam perjalanan membangun bisnis.

“Cintai bisnis yang dijalani, terus mencoba dan pantang menyerah karena dalam semua masalah selalu ada peluang,” pungkas Ferdinandus.