Bermula dari tugas mata kuliah yang harus di ambil oleh seorang mahasiswi Universitas Surabaya yaitu Kewirausahaan, mahasiswi ini dapat mempunyai bisnis sendiri yang dirintis sejak dimulainya mata kuliah kewirausahaan tersebut. Kelompok yang berisikan 5 orang tersebut menerima tugas yang dituntut untuk menciptakan 2 macam produk dengan syarat yaitu sesuai dengan filosofi LOVE yang terdiri dari Local Wisdom, Omniconnectivity, Virtue, dan Ecological Harmony. Dari keempat unsur LOVE tersebut, kelompok mereka memilih aspek Local Wisdom yaitu rempah-rempah yang menjadi khas dari Indonesia dengan segudang manfaat. Adapun inspirasi yang dibuat oleh gadis bernama Nursaadah ini karena pada saat itu Nursaadah sedang sakit demam, batuk, pilek, dan drop. Oleh karena itu, Nursaadah terinspirasi oleh teh yang proses pembuatannya hanya dengan dicelupkan ke dalam air panas. Dari kejadian itu, timbullah ide untuk mengkombinasikan antara teh celup dengan rempah-rempah yang dijadikan produk inovasi kelompok dari Nursaadah.
Adapun produk rempah yang digunakan membuat Teh Ambarsari oleh Nursaadah ini terdiri dari jahe merah, kayu manis, bunga lawang, dan kapulaga yang dipadukan dengan teh tubruk untuk dijadikan sebagai teh jamu celup. Eksperimen untuk menciptakan perpaduan yang pas dalam pembentukan produk ini dilakukan dalam berulang kali untuk dapat menciptakan produk yang pas dalam pembuatannya. Bukti dari eksperimen ini dibuktikan pada diri sendiri dahulu dan kepada keluarga Nursaadah, alhasil rasa sakit yang dirasakan Nursaadah waktu itu mereda dan ibu dari Nursaadah yang sering mengalami sesak di dada sudah jarang lagi sakit. Dari hasil tersebut, Nursaadah yakin bahwa produk yang dia ciptakan adalah layak untuk di produksi. Manfaat yang diklaim menjadi power dari produk mereka adalah mampu meredakan gejala seperti demam, sakit pegal-pegal, sesak nafas, tenggorokan, sakit nyeri haid, menyehatkan tubuh, mengatasi bau mulut, menyehatkan ginjal, jantung, dan maag.
Karena adanya deadline dari UBAYA pada bulan Mei 2019 untuk melakukan event yang di selenggarakan di Tunjungan Plaza Mall, Nursaadah dan kelompok mengelola sedemikian rupa dengan kesederhanaan alat untuk mengolah produk mereka. Proses pengolahan bahan rempah yang diolah secara manual dengan menggunakan alat tubruk maupun blender yang sebelumnya dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu serta pengemasan yang dilakukan secara singkat untuk mengejar deadline yang ada menghasilkan 60 pack. Produk yang mereka jual dalam pameran yang diadakan UBAYA di Tunjungan Plaza Mall tersebut habis terjual. Harga jual yang Nursaadah dan kelompok patok adalah sebesar Rp 35.000,- untuk setiap pack dengan berisikan 10 teh dan 10 sachet brown sugar.
Adanya minat pasar yang cukup tinggi untuk membeli kembali produk Teh Ambarsari maka dari itu Nursaadah sebagai peneliti produk yang didampingi curator kelompok memutuskan untuk memproduksi secara massal produk Teh Ambarsari ini. Nursaadah menawarkan kepada tim untuk melanjutkan produk ini akan tetapi tim dari Nursaadah menolak dan Nursaadah meminta izin untuk melanjutkan produksi produk Teh Ambarsari ini. Perijinan yang sudah dikantongi sampai saat ini masih SIUP karena adanya proses perizinan yang lama. Karena Teh Ambarsari belum mempunyai kelengkapan perizinan seperti merk, halal dan PIRT maka penjualan masih dilakukan secara online.
Teh Ambarsari dijual secara Pre Order dan masih dibuat dengan homemade oleh Nursaadah sudah mulai memiliki mesin untuk memproduksinya. Dalam proses pengemasan Teh Ambarsari sudah memiliki alat khusus untuk mengepress kantong tehnya sehingga penampilan sudah lebih rapi dari pada sebelumnya. Dalam kondisi pandemi ini, Teh Ambarsari makin meningkatkan quality control dalam pembuatannya seperti menggunakan masker dan sarung tangan dalam pembuatannya. Pemerintah Kota Surabaya juga sering order Teh Ambarsari ini dan banyak konsumen lainnya yang sudah merasakan manfaatnya. Jadi kapan kamu anak muda mau mulai berbisnis? (dsl)
