Written by Bonnie Soeherman (Ketua Program Studi Magister Akuntansi).

Pada artikel sebelumnya, saya bercerita sejarah perkembangan cara hidup manusia hingga munculnya Society 5.0, yang berimplikasi pada peningkatan kualitas hidup manusia. Pemerintah Jepang menjadi pelopor gerakan ini sekaligus menaruh keyakinan tinggi dalam berinvestasi menciptakan Society 5.0. Seperti dilansir situs berita CGTN, pengembangan inovasi akan dilakukan pada bidang transpostasi seperi bis dan armada truk yang dikendalikan secara remote, dan pengiriman paket dengan drone; Smart Home Appliances; Elderly Care Service; serta pada bidang pekerjaan seperti penggunaan lebih banyak robot sebagai pengganti tugas “kasar” manusia, hingga proses data basis cloud (lihat video https://www.youtube.com/watch?v=S9JMuwvzz8g).

Bagaimana para ahli di Jepang melakukannya, berpikir sangat imajinatif sekaligus solutif?

Society 5.0 bukan dibangun tiba-tiba mengingat perkembangan Revolusi Industri 4.0. Saya pikir, dasar utama dari pengembangan ini bukan sekadar tentang teknologi kekinian. Jepang mendasarkan Society 5.0 pada peradaban. Bisa dipastikan bahwa seluruh inovasi penunjang Society 5.0 dibangun karena kepedulian atau sesuatu yang bersifat sosial, bahkan spiritual. Akhir tahun lalu, saya kembali ke Tokyo. Kali itu saya memiliki waktu lebih banyak untuk memeperhatikan peradaban. Mengunjungi taman kota, saya terkagum-kagum pada konsep toilet pria di sana. Di dalam ruang yang cukup kecil, terdapat semacam kursi gantung untuk mendudukkan anak kecil, kemudian di sebelah kanan terdapat tiang untuk menahan tubuh mereka yang mengalami kesulitan duduk dan berdiri. Satu lagi, di sana saya melihat pispot potty tergantung, plug-in pispot yang biasa digunakan oleh anak kecil. Bahkan, masalah toilet saja, mereka sangat memperhatikan kenyamanan pengguna. Tidak pernah saya menjumpai toilet yang jorok. Bukan hanya bagaimana pemerintah membangun fasilitas dan menugaskan petugas kebersihan, namun juga bagaimana masyarakat turut menjaganya.

Satu lagi yang menarik perhatian saya. Pagi itu, bis kota datang tepat pukul 05.20 waktu Tokyo. Lebih besar dari bis pada umumnya. Berhenti di depan halte dan secara otomatis suspensi sisi kiri bis itu perlahan turun dengan suara seperti rem angin. Tujuannya, agar kami para penumpang lebih mudah melangkah naik. Inovasi sederhana yang sekali lagi ditujukan pada kemudahan manusia.

Masyarakat Jepang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan yang sangat tinggi. Mereka berusaha meminimalkan tindakan yang dirasa akan merugikan orang lain, mereka tidak suka membuang sampah, mereka berdisiplin tinggi dalam menggunakan fasilitas umum, mereka bersama menjaga etika kehidupan. Inilah peradaban yang mejadi ruh dari human-centric innovation alias Society 5.0, inovasi berbasis teknologi tinggi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.